Cara Menghitung Kebutuhan Mortar untuk Proyek Rumah 1 Lantai

Dalam proyek pembangunan rumah 1 lantai, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah salah menghitung kebutuhan mortar. Akibatnya, material bisa kurang di tengah pekerjaan atau justru berlebih dan terbuang sia-sia. Kedua kondisi tersebut tentu berdampak pada biaya dan efisiensi proyek.
Mortar digunakan dalam beberapa tahap pekerjaan, mulai dari pemasangan bata ringan, plesteran, hingga finishing skim coat. Oleh karena itu, memahami cara menghitung kebutuhan mortar dengan tepat akan membantu Anda mengontrol anggaran sekaligus memastikan kualitas hasil akhir tetap optimal.
Kita akan membahas langkah demi langkah cara menghitung kebutuhan mortar untuk rumah 1 lantai secara sederhana dan praktis.
1. Tentukan Luas Total Dinding
Langkah pertama adalah menghitung luas total dinding yang akan dikerjakan.
Rumus dasar luas dinding:
Panjang dinding × Tinggi dinding = Luas (m²)
Sebagai contoh, misalnya sebuah rumah 1 lantai memiliki ukuran 8 m × 10 m dengan tinggi dinding 3 meter.
Keliling bangunan: (8 + 10 + 8 + 10) = 36 meter
Total luas dinding: 36 m × 3 m = 108 m²
Jika ingin lebih akurat, kurangi luas bukaan seperti pintu dan jendela. Misalnya total bukaan 8 m²:
108 m² – 8 m² = 100 m² luas bersih dinding.
Angka inilah yang akan menjadi dasar perhitungan kebutuhan mortar untuk setiap tahap pekerjaan.
2. Menghitung Kebutuhan Mortar untuk Pemasangan Bata Ringan
Jika menggunakan bata ringan, biasanya dipakai thin bed adhesive dengan ketebalan rata-rata 3–5 mm.
Misalnya kita gunakan ketebalan 4 mm (0,004 meter).
Rumus volume mortar:
Luas dinding × Ketebalan = Volume (m³)
100 m² × 0,004 m = 0,4 m³
Berat jenis mortar umumnya sekitar 1.600–1.800 kg/m³. Kita ambil rata-rata 1.700 kg/m³.
0,4 m³ × 1.700 kg = 680 kg mortar
Jika satu zak mortar instan beratnya 25 kg:
680 kg ÷ 25 kg ≈ 27 zak
Tambahkan cadangan 5–10% untuk mengantisipasi pemborosan:
27 zak + 10% ≈ 30 zak

Untuk pemasangan bata ringan, penggunaan produk thin bed adhesive seperti BC-380 Alcaplast Thin Bed Adhesive memudahkan estimasi karena konsumsi material biasanya sudah dicantumkan dalam spesifikasi produk. Hal ini membuat perhitungan lebih akurat dibanding campuran manual.
3. Menghitung Kebutuhan Plester Dinding
Setelah bata terpasang, tahap berikutnya adalah plesteran. Ketebalan plester rata-rata berkisar 10–15 mm tergantung kondisi permukaan.
Misalnya kita gunakan ketebalan 12 mm (0,012 meter).
Volume plester:
100 m² × 0,012 m = 1,2 m³
Kalikan dengan berat jenis mortar (1.700 kg/m³):
1,2 m³ × 1.700 kg = 2.040 kg
Jika satu zak plester instan beratnya 25 kg:
2.040 kg ÷ 25 kg = 81,6 zak
Dibulatkan menjadi 82 zak, lalu tambahkan 5–10% cadangan: ≈ 90 zak

Penggunaan plester instan seperti BC-301 Alcaplast Plaster & Brick Adhesive membantu menjaga konsistensi ketebalan dan daya rekat. Dengan komposisi yang sudah diformulasikan pabrik, risiko retak akibat campuran tidak stabil bisa dikurangi.
4. Menghitung Kebutuhan Skim Coat (Acian)
Tahap terakhir sebelum pengecatan adalah aplikasi skim coat atau acian. Ketebalannya jauh lebih tipis dibanding plester, biasanya 1–3 mm.
Misalnya digunakan ketebalan 2 mm (0,002 meter).
Volume skim coat:
100 m² × 0,002 m = 0,2 m³
Kalikan dengan berat jenis:
0,2 m³ × 1.700 kg = 340 kg
340 kg ÷ 25 kg = 13,6 zak
Dibulatkan menjadi 14 zak, lalu tambahkan cadangan:
≈ 15 zak

Skim coat instan seperti BC-200 Alcaplast Skim Coat biasanya memiliki daya sebar yang sudah tertera pada kemasan, sehingga memudahkan kontraktor menghitung kebutuhan tanpa harus mengonversi volume secara manual.
5. Perlukah Menghitung Waterproofing?
Untuk area tertentu seperti kamar mandi, dak beton, atau area basah, diperlukan lapisan waterproofing tambahan.
Jika misalnya luas kamar mandi dan area basah total 20 m², dan kebutuhan waterproofing rata-rata 1 kg per m² untuk dua lapis aplikasi, maka:
20 m² × 1 kg = 20 kg

Produk waterproofing instan seperti BC-107 Alcaproof FLEX Waterproof biasanya sudah memiliki panduan konsumsi material per m², sehingga estimasi menjadi lebih sederhana dan minim kesalahan.
6. Perbandingan dengan Campuran Manual
Pada metode manual, perhitungan lebih rumit karena melibatkan komposisi semen dan pasir. Misalnya campuran 1:4, maka setiap 1 m³ mortar membutuhkan sekitar:
- 0,25 m³ semen
- 0,75 m³ pasir
Belum lagi faktor kehilangan material, kualitas pasir, serta perbedaan kadar air yang dapat memengaruhi volume akhir.
Mortar instan jauh lebih mudah dihitung karena:
- Konsumsi per m² sudah jelas
- Ketebalan aplikasi lebih konsisten
- Risiko salah campur lebih kecil
Hal ini membuat estimasi kebutuhan untuk proyek rumah 1 lantai menjadi lebih akurat dan terkontrol.
7. Tips Agar Perhitungan Tidak Melenceng
Agar kebutuhan mortar tidak meleset, perhatikan beberapa hal berikut:
- Gunakan ukuran ketebalan realistis sesuai kondisi lapangan.
- Tambahkan cadangan 5–10% untuk mengantisipasi pemborosan.
- Pastikan permukaan bata rata agar tidak membutuhkan plester terlalu tebal.
- Gunakan produk dengan spesifikasi konsumsi yang jelas.
- Catat seluruh hasil pengukuran sebelum pembelian material.
Kesimpulan
Menghitung kebutuhan mortar untuk proyek rumah 1 lantai sebenarnya cukup sederhana jika mengikuti langkah yang sistematis:
- Hitung luas bersih dinding.
- Tentukan ketebalan tiap lapisan (perekat, plester, skim coat).
- Konversikan ke volume dan berat material.
- Tambahkan cadangan untuk keamanan.
Dengan pendekatan ini, Anda bisa menghindari kekurangan material maupun pemborosan yang tidak perlu.
Penggunaan mortar instan untuk setiap tahap mulai dari thin bed adhesive, plester, hingga skim coat membuat perhitungan lebih praktis dan hasil kerja lebih konsisten dibanding campuran manual.
Perencanaan material yang tepat bukan hanya soal angka, tetapi juga kunci keberhasilan proyek agar selesai tepat waktu, sesuai anggaran, dan menghasilkan dinding yang kuat serta rapi.
Catatan : Perhitungan kebutuhan mortar dalam artikel ini merupakan estimasi berdasarkan rata-rata ketebalan aplikasi dan standar umum di lapangan. Kebutuhan aktual dapat berbeda tergantung kondisi permukaan, metode kerja, tingkat kerapian pemasangan, serta faktor lingkungan. Disarankan untuk melakukan pengecekan langsung di lokasi proyek sebelum menentukan jumlah pembelian material.



